Trauma Pilkada Tuban Telah Berlalu

hotel dibakarKabupaten Tuban, Jawa Timur, menyimpan potret buram pelaksanaan demokrasi. Lima tahun lalu, 29 April 2006, terjadi amuk massa dan kerusuhan politik terkait pemilihan kepala daerah.

Saat itu pendopo bupati, gedung Korpri, kantor Komisi Pemilihan Umum, sejumlah mobil dinas jadi sasaran kemarahan massa dan dibakar. Stasiun Pengisian Bahan Bakar untuk Umum di Jalan RE Martadinata, Hotel Mustika, mobil mewah, dan Gudang 99 yang tidak lain adalah milik keluarga calon bupati petahana Haeny Relawati Rini Widiastuti tak luput dari sasaran amuk massa. Rumah pribadi Ali Hasan (suami Haeny) di Jalan Agus Salim dan rumah megah di Kelurahan Mondokan turut jadi incaran massa yang tidak terkendali.

Situasi Tuban mencekam, polisi memberlakukan jam malam. Sejumlah orang yang dianggap dalang kerusuhan diamankan. Bahkan politisi, Miyadi dari Partai Kebangkitan Bangsa, dan Go Tjong Ping alias Teguh Prabowo calon wakil bupati pasangan Noor Nahar Hussein ditahan.

Kerusuhan itu tidak mengubah hasil perolehan suara yang dinilai sarat rekayasa. Calon petahana Haeny Relawati Rini Widiastuti-Lilik Suhardjono (Heli) meraih 327.805 suara (51,76 persen), sementara rival politiknya pasangan Noor Nahar Hussein-Teguh Prabowo (Nonstop) meraih 305.560 suara (48,24 persen).

Pada Pilkada Tuban tahun ini, Haeny dan Noor Nahar Hussein kembali berlaga. Keduanya kembali bersaing, tetapi sama-sama sebagai calon wakil bupati. Haeny berpasangan dengan Kristiawan (Ketua DPRD Tuban), sedangkan Noor Nahar Hussein berpasangan dengan Fathul Huda (Ketua Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama Tuban).

Kali ini aparat keamanan tidak ingin kecolongan. Pelaksanaan pemungutan suara, 1 Maret lalu dijaga ketat. Pada sejumlah titik rawan disiagakan kendaraan taktis dan tim Gegana Brimob. Sedikitnya 1.311 polisi dikerahkan, belum termasuk TNI, Satuan Polisi Pamong Praja, dan Perlindungan Masyarakat.

Sebanyak 76 Tempat Pemungutan Suara (TPS) mendapat perhatian khusus dan setiap TPS dijaga satu personel polisi. TPS tersebut tersebar di Kenduruhan, Bancar, Tambakboyo, Tuban, dan Palang. Sementara di tempat lain, satu polisi memantau tiga TPS. Sedikitnya 664.133 warga atau 73,09 persen dari 908.541 warga yang memiliki hak pilih menyalurkan suara di 1.984 TPS yang tersebar di 328 desa/kelurahan pada 20 kecamatan.

Awalnya warga Tuban masih trauma dengan peristiwa lima tahun silam. Saat hari pemungutan suara Selasa (1/3/2011) sejumlah toko memilih tutup karena khawatir peristiwa tahun 2006 terulang lagi. Namun, kekhawatiran masyarakat dan aparat tidak terbukti. Pilkada berlangsung aman, tertib, dan lancar tanpa insiden yang mengkhawatirkan.

Hanya terjadi insiden kecil di Desa Jadi, Kecamatan Semanding, seorang warga yang hendak mencoblos dihalang-halangi seseorang yang sedang mabuk dan menyebetkan sabit. Kasus lainnya di Kecamatan Montong, temuan gambar terpidana kasus mafia pajak Gayus Halomaan Tambunan pada kertas suara, menempel pada gambar pasangan nomor urut 2, Kristiawan-Haeny Relawati Rini Widiastuti (Wani). Gambar Gayus yang dicoblos pemilih itu ditemukan di TPS 07 Desa Temaji sebanyak tiga kertas suara dan empat kertas suara lainnya ditemukan di TPS 01 Desa Karangasem. Di Kelurahan Kingking, Kecamatan Tuban Kota, ditemukan tempelan gambar Go Tjong Ping pada gambar pasangan Wani.

Meskipun tidak ada gejolak potensi kerawanan masih ada. Kepala Kepolisian Daerah Jawa Timur Inspektur Jenderal Badroddin Haiti saat meninjau pelaksanaan Pilkada Tuban menyatakan kerawanan itu mulai penghitungan suara hingga rekap suara selesai. Polisi akan disiagakan memantau pelaksanaan rekapitulasi manual dari tingkat Panitia Pemungutan Suara, Panitia Pemilihan Kecamatan hingga Komisi Pemilihan Umum.

KPU Tuban tidak menggelar penghitungan cepat dan menyediakan rekap sementara. KPU Tuban melaksanakan rekap manual pada 5-7 Maret untuk selanjutnya ditetapkan hasilnya. Hasil rekapitulasi di tingkat Panitia Pemilihan Kecamatan sudah tuntas dan sudah dikirimkan ke KPU Kamis (3/3).

Anggota KPU Tuban Heru Prapto menegaskan, KPU melaksanakan semua tahapan Pemilihan Kepala Daerah sesuai jadwal dan aturan, termasuk mengantisipasi kemungkinan sengketa atau gugatan. Disiapkan dana Rp 60 juta untuk menghadapi gugatan.

Hasil penghitungan dari masing-masing tim pemenangan pasangan calon menunjukkan pasangan Fathul Huda-Noor Nahar Hussein unggul dengan meraih 54 persen hingga 56 persen suara. Calon petahana pasangan Wani tersungkur dan hanya berada di urutan kedua dengan suara pada kisaran 30 persen. Pilkada yang diperkirakan dua putaran pun cukup satu putaran.

Agaknya politisi dan masyarakat di tempat lain bisa belajar politik yang elegan dari Tuban. Sejumlah calon yang kalah secara jantan dan terbuka mengakui keunggulan rival politiknya pada pilkada. Politisi Tuban memberi contoh yang baik bagi penyelenggaraan demokrasi di negeri ini.

Pasangan Bambang Lukmantono-Edy Thoyibi (Bangkit) secara khusus bersilaturahmi dan mendatangi rumah pasangan Fathul Huda-Noor Nahar Hussein (Huda Noor). Keduanya mengucapkan selamat disertai harapan agar pasangan Huda Noor bisa meningkatkan kesejahteraan masyarakat Tuban dan mengentaskan kemiskinan.

Langkah serupa dilakukan pasangan yang diusung Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan, Muhammad Anwar-Tulus Setyo Utomo (Mulyo) yang memberi ucapan selamat kepada pasangan Huda Noor. Sejumlah tim pemenangan pasangan lain juga mengucapkan selamat.

Berdasar data terakhir dari tim pemenangan Huda Noor jumlah suara sah sebanyak 664.133. Pasangan nomor urut 5 Huda Noor meraih 366.560 suara (55,2 persen), pasangan nomor urut 2 Kristiawan-Haeny Relawati Rini Widiastuti (Wani) meraih 202.718 suara (30,5 persen), pasangan nomor urut 5 Setiadjit-Bambang Suharyanto (Sehat) meraih 43.122 suara (6,5 persen), pasangan nomor urut 3 Muhammad Anwar-Tulus Setyo Utomo (Mulyo) meraih 39.536 suara (6 persen), pasangan nomor urut 1 Muhammad Chamim Amir-Ashadi Suprapto (Muatoh) meraih 6.611 suara (1 persen), dan pasangan nomor urut 6 Bambang Lukmantono-Edy Toyibi (Bangkit) meraih 5.586 suara (0,8 persen).

Hasil penghitungan versi tim pemenangan Wani, Huda Noor meraih 54,86 persen, Wani sendiri meraih 30,13 persen. Versi tim Mulyo, Huda Noor meraih 54,34 persen, Wani meraih 29,7 persen. Versi Tim Sehat, Huda Noor meraih 55,11 persen, Wani 30,35 persen.

Meskipun meraih kemenangan sementara, hal itu tidak membangkitkan eforia bagi pasangan Huda Noor dan pendukungnya. Bahkan Fathul Huda meminta pendukungnya tidak sombong dan tidak terlena. Dia juga melarang pendukungnya berkonvoi, dan meminta agar tidak melakukan kegiatan yang melanggar ketertiban dan aturan. “Kemenangan ini kemenangan seluruh rakyat Tuban. Jangan dirayakan dengan foya-foya,” kata Huda.

Luapan kegembiraan pendukung Huda Noor hanya dirayakan dengan mencukur gundul rambut kepala. Di antara yang bercukur adalah adik Fathul Huda, Nasrudin Ali. Sementara itu seorang simpatisan Huda Noor, Sunari (50) warga Desa Sukoharjo Kecamatan Bancar berjalan kaki dari rumahnya menuju rumah Huda di Latsari, Kecamatan Tuban. Dia memenuhi nadzarnya berjalan kaki Rabu (2/3) mulai pukul 07.00 hingga tiba di tujuan pukul 21.00 menempuh jarak sepanjang 50 kilometer bila Huda Noor menang. Hal itu membuat Huda terharu.

Setelah semua proses pilkada selesai dan hasil resmi telah ditetapkan, Huda Noor akan fokus mengentaskan kemiskinan dan mengatasi pengangguran setelah kelak dilantik. “Kami akan menarik dan mempermudah akses usaha bagi investor termasuk perizinan. Kami akan menggalakkan agrobis buah naga yang bagus dibudidayakan di Tuban dan menggalakan industri rumahan termasuk kompos,” tutur Huda.

Proses pilkada di Tuban tahun ini memberi contoh nyata indahnya persaingan. Masyarakat menghargai perbedaan pilihan. Politisi memberi teladan bagaimana menang terhormat dan kalah bermartabat. Yang kalah dengan lapang dada menghormati yang menang, yang menang tidak jumawa dan mau menghargai yang kalah. (sumber: kompas)

Filed Under: Kabar Pilkada

About the Author:

RSSComments (0)

Trackback URL

Comments are closed.

  • Quote of the Day
    Bagaimana mau menang, jika tidak pernah masuk dalam pertempuran.