Tiga Kandidat Tolak Hasil Rekapitulasi

Tiga Kandidat Tolak Hasil Rekapitulasi
Tiga calon bupati dan wakil bupati Kabupaten Timor Tengah Utara, Provinsi Nusa Tenggara Timur, periode 2010-2015 yang tertinggal dalam perolehan suara, menolak hasil rapat pleno terbuka rekapitulasi penghitungan suara pemilu kepala daerah setempat.
“Banyak pelanggaran yang diduga dilakukan oleh KPU Kabupaten Timor Tengah Utara (TTU) dan juga pasangan nomor empat,” kata Juru Bicara KPU Kabupaten TTU, Dolfianus Kolo, ketika dihubungi dari Kupang, Sabtu (23/10/10) malam.
Tiga pasangan yang menolak tersebut adalah Pius Tjanai-Raymundus Loin (Pijar), Gabriel Manek-Simon Feka (Manis) dan Yohanes Usfunan- Nikolaus Suni (Funan-Suni).
Ia mengatakan, dari tiga pasangan calon yang kalah itu, baru pasangan Gabriel-Simon yang diusung Partai Golkar, yang telah melayangkan surat penolakan terhadap hasil pleno rekapitulasi KPU.
Dalam surat tertanggal 20 Oktober 2010, dengan Nomor 85/DPP/PG/TTU/X/2010 yang intinya menegaskan bahwa Paket Gabriel-Simon yang diusung Partai Golkar, menolak dengan tegas hasil pleno rekapitulasi perolehan suara KPU, disebutkan beberapa alasan penolakan.
Alasan penolakan, di antaranya, karena teguran penghentian pleno penghitungan suara oleh Panwas Pilkada dan saksi pasangan Gabriel-Simon tidak ditanggapi oleh KPU.
Berikut, karena alasan temuan indikasi kecurangan, maka Panwas meninggalkan ruang rapat pleno KPUD, disusul saksi Paket Gabriel-Simon. Rapat pleno dilanjutkan KPUD dengan dihadiri saksi paket calon nomor urut empat.
Selanjutnya, saksi paket lain tidak menghadiri rapat pleno karena ada indikasi kecurangan. Hal ini sudah disuarakan melalui aksi unjuk rasa sebelum berlangsungnya pleno di tingkat KPU.
Atas dasar itu, pasangan Gabriel-Simon menyatakan dengan tegas bahwa berita acara hasil rapat pleno KPUD TTU tidak sah dan cacat hukum. Cacat hukum karena berita acara tersebut tidak ditandatangani Panwas dan saksi dari empat paket calon, selain paket calon nomor urut empat.
“Dengan alasan-alasan tersebut, maka paket Gabriel-Simon menyatakan akan segera mencari keadilan melalui jalur hukum, yakni menggugat KPUD ke MK di Jakarta,” katanya.
Dua paket lainnya, yaitu Pius Tjanai-Raymundus Loin (Pijar) dan Yohanes Usfunan-Nikolaus Suni (Funan-Suni) tidak menyatakan tertulis penolakannya dan memang tidak disyaratkan juga dalam peraturan untuk melakukan penolakan secara tertulis.
Pilkada TTU pada tanggal 11 Oktober 2010 dimenangkan oleh pasangan Dubes (Raymundus Sau Fernandes-Aloysius Kobe) yang memperoleh 42.709 suara. Mereka mengalahkan Gabriel Manek (Bupati TTU) dan pasangan wakilnya, Simon Feka yang mendulang 41.216 suara. Dubes unggul 1.493 suara dari Gabriel-Simon.
Perolehan suara terbanyak ketiga diraih pasangan Yohanes Usfunan- Nikolaus Suni (Funan-Suni) yang meraih 26.621 suara. Menyusul pasangan Pius Tjanai- Raymundus Loin (Pijar) yang memperoleh  6.573 suara. Sedangkan Joao Meko-Alexander Sanan (JD) hanya kebagian 2.303 suara. (sumber: kompas)

rekapitulasi suara pilkadaTiga calon bupati dan wakil bupati Kabupaten Timor Tengah Utara, Provinsi Nusa Tenggara Timur, periode 2010-2015 yang tertinggal dalam perolehan suara, menolak hasil rapat pleno terbuka rekapitulasi penghitungan suara pemilu kepala daerah setempat.

“Banyak pelanggaran yang diduga dilakukan oleh KPU Kabupaten Timor Tengah Utara (TTU) dan juga pasangan nomor empat,” kata Juru Bicara KPU Kabupaten TTU, Dolfianus Kolo, ketika dihubungi dari Kupang, Sabtu (23/10/10) malam.

Tiga pasangan yang menolak tersebut adalah Pius Tjanai-Raymundus Loin (Pijar), Gabriel Manek-Simon Feka (Manis) dan Yohanes Usfunan- Nikolaus Suni (Funan-Suni).

Ia mengatakan, dari tiga pasangan calon yang kalah itu, baru pasangan Gabriel-Simon yang diusung Partai Golkar, yang telah melayangkan surat penolakan terhadap hasil pleno rekapitulasi KPU.

Dalam surat tertanggal 20 Oktober 2010, dengan Nomor 85/DPP/PG/TTU/X/2010 yang intinya menegaskan bahwa Paket Gabriel-Simon yang diusung Partai Golkar, menolak dengan tegas hasil pleno rekapitulasi perolehan suara KPU, disebutkan beberapa alasan penolakan.

Alasan penolakan, di antaranya, karena teguran penghentian pleno penghitungan suara oleh Panwas Pilkada dan saksi pasangan Gabriel-Simon tidak ditanggapi oleh KPU.

Berikut, karena alasan temuan indikasi kecurangan, maka Panwas meninggalkan ruang rapat pleno KPUD, disusul saksi Paket Gabriel-Simon. Rapat pleno dilanjutkan KPUD dengan dihadiri saksi paket calon nomor urut empat.

Selanjutnya, saksi paket lain tidak menghadiri rapat pleno karena ada indikasi kecurangan. Hal ini sudah disuarakan melalui aksi unjuk rasa sebelum berlangsungnya pleno di tingkat KPU.

Atas dasar itu, pasangan Gabriel-Simon menyatakan dengan tegas bahwa berita acara hasil rapat pleno KPUD TTU tidak sah dan cacat hukum. Cacat hukum karena berita acara tersebut tidak ditandatangani Panwas dan saksi dari empat paket calon, selain paket calon nomor urut empat.

“Dengan alasan-alasan tersebut, maka paket Gabriel-Simon menyatakan akan segera mencari keadilan melalui jalur hukum, yakni menggugat KPUD ke MK di Jakarta,” katanya.

Dua paket lainnya, yaitu Pius Tjanai-Raymundus Loin (Pijar) dan Yohanes Usfunan-Nikolaus Suni (Funan-Suni) tidak menyatakan tertulis penolakannya dan memang tidak disyaratkan juga dalam peraturan untuk melakukan penolakan secara tertulis.

Pilkada TTU pada tanggal 11 Oktober 2010 dimenangkan oleh pasangan Dubes (Raymundus Sau Fernandes-Aloysius Kobe) yang memperoleh 42.709 suara. Mereka mengalahkan Gabriel Manek (Bupati TTU) dan pasangan wakilnya, Simon Feka yang mendulang 41.216 suara. Dubes unggul 1.493 suara dari Gabriel-Simon.

Perolehan suara terbanyak ketiga diraih pasangan Yohanes Usfunan- Nikolaus Suni (Funan-Suni) yang meraih 26.621 suara. Menyusul pasangan Pius Tjanai- Raymundus Loin (Pijar) yang memperoleh  6.573 suara. Sedangkan Joao Meko-Alexander Sanan (JD) hanya kebagian 2.303 suara. (sumber: kompas)

Filed Under: Kabar Pilkada

Tags:

About the Author:

RSSComments (0)

Trackback URL

Comments are closed.

  • Quote of the Day
    Bagaimana mau menang, jika tidak pernah masuk dalam pertempuran.