Pilkada Jogjakarta ‘Perang’ Poster dan Spanduk

spanduk pilkada bertebaranPilkada Jogja, Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada) Kota Yogyakarta sebentar lagi akan digelar. Tim sukses tiga pasangan calon yang maju gencar berkampanye dengan memasang poster, spanduk dan baliho di berbagai penjuru kota.

Saat kita berjalan-jalan di setiap sudut kota, seperti Sabtu (17/9/2011), berbagai poster dan spanduk ketiga pasangan calon selalu dijumpai. Hanya di jalan protokol dan beberapa tempat saja seperti di kawasan Malioboro yang bersih.

Memang di lokasi-lokasi itu tidak diperbolehkan untuk memasang atribut kampanye apapun. KPU Kota Yogyakarta sudah tegas-tegas melarangnya.

Tiga pasangan calon yang maju dalam pilkada Jogja adalah pasangan nomor 1 Zuhrif Hudaya dan Aulia Reza yang diusung PKS dan Gerindra. Pasangan ini gencar berkampanye dengan slogan ‘Mbangun Kampung’. Mereka menjanjikan adanya alokasi dana dari APBD sebesar Rp 125 juta/RW untuk membangun kampung. Total dana yang dijanjikan untuk merealisasikan janjinya sebesar Rp 80 milyar, Rp 60 untuk biaya dan jaminan pendidikan Rp 25 milyar untuk jaminan kesehatan.

Sedangkan pasangan nomer urut 2 dan 3 keduanya mengklaim sebagai pendukung Penetapan terhadap Sri Sultan Hamengku Buwono dan Paku Alam untuk jabatan gubernur dan wakil gubernur DIY.

Pasangan nomer urut 2, Hanafi Rais dan Tri Harjun Ismaji (Fitri) diusung PAN, Partai Demokrat dan PPP dengan slogan ‘Jogja Makin Baik’. Pasangan ini juga mengklaim mendapat restu dan dukungan dari Walikota Yogyakarta, Herry Zudianto. Tidak heran bila di poster dan baliho yang dipasang di pinggir jalan ada gambar Herry Zudianto duduk bersama pasangan Fitri dengan mengenakan baju batik.

Selain itu, diposter-poster mereka juga ditulisi ‘Pro Penetapan’ serta tulisan ‘Sang Penerus’. Dalam setiap kampanye, mereka selalu menyatakan mendukung penetapan dan sebagai penerus walikota Yogyakarta Herry Zudianto yang berasal dari PAN.

Mereka juga mencantumkan tulisan ‘Saya percaya dan akan mencoblos Fitri nomor 2, satu-satunya penerus saya. Herry Zudianto. Di bagian bawah juga tertulis Sang Penerus, satu-satunya yang dipercaya Kang Herry untuk Jogja Makin Baik.

Sementara itu pasangan nomer urut 3 Haryadi Suyuti dan Imam Priyono dengan slogan ‘Hati Berimam’ diusung oleh PDIP dan Partai Golkar. Haryadi Suyuti merupakan wakil walikota Yogyakarta saat ini yang maju mencalonkan diri menjadi walikota dengan diusung PDIP dan Partai Golkar. Dia berpasangan dengan imam Priyono mantan Dirut PDAM Tirta Marta Yogyakarta.

Pasangan ini juga mengklaim sebagai pendukung pro penetapan serta didukung oleh keluarga Kraton Kasultanan Ngayogyakarto Hadiningrat dan Paku Alaman. Tidak mengherankan bila di beberapa baliho yang terpasang juga ada gambar keluarga kraton. Bahkan beberapa anggota keluarga kraton dan Pakualaman juga rajin mengikuti kampanye yang digelar pasangan ini. Di berbagai poster, spanduk dan baliho yang dipasang, tercantum tulisan ‘Penetapan Harga Mati’.

Pengamat politik dan budaya Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Kalijaga Yogyakarta, Abdur Rozaki mengingatkan warga masyarakat Yogyakarta agar tidak terbuai dengan janji-janji yang diucapkan oleh semua pasangan calon yang maju di pilkada Jogjakarta.

Menurut Rozaki, semua yang dijanjikan mereka adalah sebuah sandiwara politik belaka untuk mengiming-imingi masyarakat Yogya untuk memilih salah satu pasangan. Pilkada dan kampanye hanya sebuah ritual dan pertunjukan sandiwara.

“Setelah pilkada selesai, semua juga selesai. Siapapun yang menang akan lupa dan janji-janji itu juga belum tentu terwujud,” katanya.

Menurut dia, semua calon seharusnya punya kontrak politik dengan rakyat. Kontrak politik atau pakta integritas tidak hanya dari seorang pejabat dengan atasannya. “Harus ada kontrak politik dengan rakyat. Harus diingat kampanye pilkada itu hanya semacam ritual dan sandiwara saja sehingga kalau pertunjukkan selesai semua selesai dan kembali ke urusan masing-masing,” pungkas Rozaki. (sumber: detik)

Filed Under: Kabar Pilkada

Tags:

About the Author:

RSSComments (0)

Trackback URL

Comments are closed.

  • Quote of the Day
    Bagaimana mau menang, jika tidak pernah masuk dalam pertempuran.