Pertambangan di NTT Tumbuh 7,73 Persen

batubaraSektor pertambangan dan penggalian di wilayah Nusa Tenggara Timur (NTT) selama triwulan II tahun 2010 mengalami pertumbuhan 7,73 persen.
Dibanding sebelumnya (triwulan II 2009), pertumbuhan ekonomi hanya mencapai 5,24 persen. Pertumbuhan ini terjadi karena adanya peningkatan permintaan dalam sektor bangunan di NTT.

Demikian penjelasan Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Propinsi NTT, Ir. Poltak Sutrisno Siahaan, kepada para wartawan pada acara jumpa pers di kantor setempat, Kamis (5/8/2010). Hadir pada kesempatan itu, Humas BPS NTT, Ir. Charisal Manu, M.Si, Kepala Bidang Neraca dan Analisis, Sofyan dan sejumlah staf lainnya.

Menurut Poltak, pertumbuhan ekonomi NTT secara keseluruhan mengalami peningkatan pada triwulan II 2010. Peningkatan pertumbuhan ekonomi sebesar 2,80 persen.

“Pertumbuhan ini dialami oleh semua sektor ekonomi. Dan sektor yang paling besar mengalami pertumbuhan adalah sektor pertambangan dan penggalian. Sektor ini mengalami pertumbuhan sebesar 7,73 persen,” kata Poltak.
Dijelaskannya, perekonomian di NTT diukur berdasarkan pendapatan domestik regional bruto (PDRB). Perbandingan PDRB penggunaan triwulan II tahun 2010 terhadap triwulan I tahun 2010 terjadi pengeluaran konsumsi rumah tangga naik 6,84 persen.

“Pengeluaran untuk konsumsi pemerintah lebih besar yaitu naik 9,43 persen. Sedangkan impor barang dan jasa mencapai 16,63 persen serta ekspor barang dan jasa hanya 7,88 persen,” jelasnya.

Dirincikannya, laju pertumbuhan PDRB sektor pertambangan pada triwulan II mengalami pertumbuhan sebesar 7,73 persen. Sedangkan pada triwulan II 2009 sebesar 3,65 persen. Selain itu, pada sektor keuangan, persewaan dan jasa perusahaan berada pada urutan kedua dengan laju pertumbuhan 6,82 persen pada triwulan II 2010.

Pada triwulan II tahun 2009, sektor ini hanya 5,35 persen. “Ini bukan karena mangan yang banyak dieksplorasi di NTT, tapi lebih banyak akibat penggalian seperti material pasir dan lainnya,” kata Poltak.

Kepala Dinas Pertambangan dan Energi Propinsi NTT, Drs. Yohanes Bria mengatakan, pemerintah saat ini tengah membuat rancangan peraturan daerah (Perda) tentang tambang mangan. Untuk daerah propinsi, harga mangan akan diatur melalui peraturan gubernur. Sedangkan kabupaten diatur dengan peraturan bupati, dan kota diatur dengan Perda walikota. Semua Perda itu merujuk pada aturan dari pemerintah pusat. (sumber: poskupang)

Filed Under: Indonesia Timur

Tags:

About the Author:

RSSComments (0)

Trackback URL

Comments are closed.

  • Quote of the Day
    Bagaimana mau menang, jika tidak pernah masuk dalam pertempuran.