Penyakit Rabies Mulai Masuk Kupang

rabies di nttPenyakit rabies, yang dalam satu dekade terakhir mewabah di Pulau Flores dan baru saja di Bali, kini mulai masuk Kupang. Hal ini ditandai dengan pemusnahan seekor anjing yang terdeteksi mengidap virus rabies oleh Balai Karantina Pertanian (BKP) Klas I Kupang, Kamis (5/8/2010).

Selain anjing, BKP Klas I Kupang juga memusnahkan delapan ekor ayam dan seekor bebek.  Pemusnahan berlangsung di Kantor BKP Klas I Kupang, Jalan  Yos Sudarso-Tenau, Kupang.

Hadir pada acara pemusnahan itu, Kepala BKP Klas I Kupang, drh. Farid Hermasnyah, Kepala Seksi Karantina Hewan, drh. Yulius Umbu Hunggar, Kepala Seksi Pencegahan dan Pemberantasan Penyakit Hewan (P3H) Dinas Peternakan NTT, Cahya Sunarno, pihak Pelindo, Adpel dan KP3 Laut Tenau.

Farid Hermansyah mengatakan, seekor anjing yang dimusnahkan itu ditemukan saat pengawasan di Pelabuhan Tenau Kupang, 19 Juni 2010. Anjing tersebut dibawa dari Bali ke Kupang. Setelah dikarantina, ternyata anjing tersebut positif pembawa rabies sehingga harus dimusnahkan.

Sementara delapan ekor ayam dan seekor bebek yang dipasok dari Sumba dan Ende dimusnahkan karena semuanya tidak memiliki dokumen bebas penyakit.

Menurut Farid, pemusnahan yang dilakukan untuk mencegah masuknya hewan atau ternak pembawa hama atau penyakit kepada ternak atau hewan yang ada di NTT, khususnya di Timor.

“Kalau sudah masuk, pasti masyarakat resah. Sedangkan untuk pencegahan membutuhkan biaya tinggi. Kita tidak ingin NTT menjadi Bali kedua. Di Bali sendiri warga yang meninggal karena rabies sudah mencapai 77 orang akibat gigitan anjing rabies. Daerah tersebut sudah endemis rabies,” kata Farid.

Dikatakannya, sampai saat ini wilayah kerja (wilker) BKP Klas I Kupang yaitu wilker Bolok, El Tari, Atapupu, Wini, Alor, Waingapu, Waikelo, Sabu, Rote, Motaain, Napan, Metamasin, Metamauk dan Turiskain.

“Khusus penjagaan yang perlu sekali kita perketat adalah pintu masuk dan keluar dari Motaain karena merupakan wilayah terbuka sehingga terkesan bebas lalu lintas ternak dari dan ke wilayah itu,” katanya.

Proteksi Diperketat
Farid juga menegaskan, BKP Klas I Kupang terus memperketat  proteksi dan pengawasan di pintu-pintu masuk wilayah NTT. Upaya ini dilakukan untuk memproteksi NTT dari berbagai penyakit hewan dan tanaman.

Menurut Farid, secara umum tugas pokok dan fungsi  dari karantina, antara lain mencegah masuk, keluar dan penyebaran hama dan penyakit hewan karantina dan organisme pengganggu tumbuhan karantina dari satu wilayah ke wilayah lain. Sedangkan BKP Klas I Kupang sendiri menyelenggarakan fungsi pelaksanaan, pemeriksaan, pengasingan, pengamatan, perlakuan, penahanan, penolakan dan pemusnahan serta pembebasan media pembawa Hama dan Penyakit Hewan Karantina (HPHK) dan Organisme Pengganggu Tumbuhan Karantina (OPTK).

“Kita bertekad secara bersama memproteksi secara ketat semua pintu masuk yang sudah ditetapkan pemerintah sehingga daerah NTT bisa bebas dari berbagai gangguan hewan maupun tumbuhan,” kata Farid.

Dijelaskannya, potensi ternak dan tanaman di NTT cukup besar sehingga harus ada upaya konkret untuk menjaga sehingga semua itu tidak mudah hancur karena terserang hama dan penyakit.

Bahkan, lanjutnya, penjagaan di pintu masuk baik pelabuhan udara maupun laut dilakukan secara efektif, kecuali pada pelabuhan yang tidak termasuk dalam kewenangan karantina.

Farid mengakui, pintu masuk dan keluar di NTT begitu banyak, yaitu melalui udara, laut, darat serta pelabuhan-pelabuhan rakyat.

Kondisi tersebut menuntut pihaknya terus berupaya maksimal memproteksi pintu-pintu masuk dan keluar NTT. (sumber: pos kupang)

Filed Under: Indonesia Timur

Tags:

About the Author:

RSSComments (0)

Trackback URL

Comments are closed.

  • Quote of the Day
    Bagaimana mau menang, jika tidak pernah masuk dalam pertempuran.