Pelayanan Kesehatan di Indonesia Timur Diperkuat

menteri kesehatan gubernur sulsel rumah sakit siloam makasarMenteri Kesehatan Endang Rahayu Sedyaningsih menilai sarana kesehatan di kawasan Indonesia Timur perlu diperkuat untuk membenahi kesenjangan pelayanan. Minimnya jumlah fasilitas dan tenaga medis akan diatasi dengan sinergitas rumah sakit milik pemerintah dengan swasta.

Hal itu dikemukakan Endang dalam acara peletakan batu pertama Rumah Sakit Siloam di Tanjung Bunga, Kota Makassar, Sulawesi Selatan, Jumat kemarin. Maraknya pembangunan rumah sakit oleh pihak sawasta diharapkan turut memperbaiki pelayanan kesehatan di Indonesia Timur.

Endang berharap RS Siloam yang bertaraf internasional bermitra dengan Pemerintah Provinsi Sulsel sebagai pengelola Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Sayang Rakyat yang khusus melayani warga tidak mampu. Bentuk kemitraan ini layaknya program sister hospital yang dilakukan beberapa RS di Yogyakarta dengan Nusa Tenggara Timur (NTT).

“Semakin banyak pola kemitraan RS swasta dengan pemerintah akan mempercepat perbaikan layanan kesehatan di Indonesia Timur,” tutur Endang. Kerja sama itu dapat berupa bantuan fasilitas maupun tenaga medis untuk memenuhi kebutuhan dokter spesialis.

Saat ini RS Sayang Rakyat baru memiliki 250 tempat tidur dari jumlah total 1.000 unit yang direncanakan. Sejak beroperasi pada Maret 2010, kebutuhan dokter spesialis masih didatangkan dari RSU dr Wahidin Sudirohusodo dan RSUD Labuang Baji Makassar. Dinas Kesehatan Sulsel mencatat, meskipun telah tersedia 35 RS swasta dan 27 RSUD, Sulsel masih memerlukan sekitar 4.000 tempat tidur untuk melayani 8 juta jiwa penduduk di 24 kabupaten/kota.

Dosen Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Hasanuddin, Asiah Hamzah, berpendapat, program sinergitas RS swasta dan pemerintah belum cukup mengatasi kesenjangan pelayanan kesehatan di Indonesia Timur. Pemerintah sebaiknya juga memperbanyak unit pelayanan kesehatan bergerak mengingat kawasan Indonesia Timur pada umumnya berupa wilayah kepulauan.

Ketika meneliti di Pulau Buru Selatan, Maluku, Asiah menemukan fakta bahwa 9 pusat kesehatan masyarakat (puskesmas) yang ada di daerah berpenduduk sekitar 12.000 jiwa itu hanya bertenaga medis satu orang. Kondisi serupa juga terjadi di Pulau Kahu-Kahu dan Pulau Lowa, Kabupaten Kepulauan Selayar, Sulsel.

Bahkan, sekitar 200 warga di Pulau Badi, Kabupaten Pangkajene Kepulauan, Sulsel, yang terserang demam tak dapat langsung ditangani karena dokter di puskesmas hanya datang seminggu sekali.

Menurut Asiah, situasi ini dapat ditangani menggunakan biaya operasional kesehatan sebesar Rp 100 juta dari pemerintah untuk setiap puskesmas induk. (sumber: kompas)

Filed Under: Indonesia Timur

Tags:

About the Author:

RSSComments (0)

Trackback URL

Comments are closed.

  • Quote of the Day
    Bagaimana mau menang, jika tidak pernah masuk dalam pertempuran.