Kapal Batuan Pemerintah, Baru Dibeli Sudah Rusak

kapal bantuan baru dibeli sudah rusakKapal motor bantuan Pemerintah Kota Kupang untuk nelayan yang disalurkan Dinas Kelautan dan Perikanan pada September 2009, kondisinya sudah rusak.

Kapal yang berfungsi sebagai kapal pancing itu didatangkan dari Bulukumba, Sulawesi. Harga kapal motor Rp 116.002.600,00.

“Kapal itu baru mulai digunakan pada tahun 2010, tapi kondisinya langsung rusak. Bocor pada saat beroperasi. Kami menduga dibuat dari bahan yang tidak berkualitas,” kata seorang nelayan yang meminta namanya tidak dikorankan, saat ditemui Rabu (17/3/2010).

“Kalau kapal itu gunakan kayu yang baik yaitu kayu kola maka kondisinya tidak seperti ini. Kami tidak tahu mereka gunakan kayu apa. Kendala yang kami gunakan pada saat menggunakan kapal pancing adalah air laut selalu masuk. Kapal itu tidak pakai baut akibatnya setiap kali air laut masuk. ABK kesulitan karena harus selalu timba air laut,” katanya.

Masih menurut sumber Pos Kupang, meski sudah diterima September, tetapi selama tiga bulan kami tidak gunakan karena masih dalam masa pemeliharaan.

Lebih lanjut dijelaskannya, jumlah kapal pancing yang diberikan kepada nelayan sebanyak delapan unit dan satu unit lampara. Informasi dari penerima kapal yang lain, juga mengalami hal yang sama. “Contohnya satu kapal sekarang ini ada di Semau dan tidak bisa digunakan lagi. Ada juga yang as perahu patah,” katanya.

Sumber itu mengatakan, nelayan sangat berterima kasih atas bantuan kapal pancing tetapi kondisi kapal yang diberikan tidak sesuai dengan nilainya.

“Kapal itu harganya Rp 116.002.600. Kami keberatan dengan nilai yang terlalu besar. Baru-baru ini, ada orang yang datang jual kapal yang sama dari Bulukumba, lengkap dengan mesinnya tetapi harganya hanya Rp 20 juta. Kapal itu juga langsung digunakan dan tidak rusak. Tetapi mengapa kapal bantuan pemkot ini sudah rusak, padahal baru digunakan,” ujarnya.

Dia menuturkan pengalamannya, tigakali menggunakan kapal pancing untuk mencari ikan. Duakali beroperasi, as perahu patah dan selalu bocor.

“Satukali ganti as perahu saja biayanya lebih dari Rp 1 juta. Belum lagi beli lem dan campurannya untuk lem kapal tersebut. Di satu pihak, kewajiban kami adalah menyetor sebesar Rp 1.170.000/bulan. Bukan untung yang kami peroleh tetapi rugi yang kami dapat. Satukali cari ikan, kalau harganya bagus maka kami mendapat uang Rp 2 juta sementara di satu pihak pengeluarannya besar. Kami harus mencicil selama delapan tahun. Ini baru pakai belum satu bulan sudah seperti ini,” keluhnya.

Selain mendapat bantuan kapal, nelayan juga diberikan bantuan berupa pukat dawe. Menurut nelayan, mereka tidak bisa menggunakan pukat tersebut karena long line. Tidak sesuai dengan sistem penangkapan mereka.

“Kami sudah laporkan ke dinas untuk kembalikan pukat tersebut tetapi dari dinas mengatakan simpan saja karena kalau dikembalikan ke dinas juga disimpan di sana,” katanya.

Para nelayan ini menyesali tindakan dari pegawai DKP Kota Kupang yang menakut-nakuti nelayan dimana mereka diancam akan dilaporkan ke polisi apabila tidak menandatangani SPK dan membayar cicilan.

“Kami ini orang kecil. Kami mau tandatangani SPK kalau kondisi kapal bagus, tetapi kalau kondisi kapal rusak, kami enggan untuk tandatangani. Begitu pula untuk membayar cicilan. Kalau nelayan untung maka nelayan pasti akan membayar cicilan karena nelayan sudah dibantu. Tetapi kalau setiap kali jalan, rugi maka mau bayar pakai apa,” keluhnya. (sumber: pos kupang)

Related Blogs

    Filed Under: Indonesia Timur

    Tags:

    About the Author:

    RSSComments (0)

    Trackback URL

    Comments are closed.

    • Quote of the Day
      Bagaimana mau menang, jika tidak pernah masuk dalam pertempuran.