Gagal Maju, Calon Bupati Sweeping Kantor KPU Kediri

logo-kpuTak terima dicoret dari calon bupati, Subani bersama 100 pendukung pasangan calon Bupati Kediri Subani–Masruki mendatangi Kantor Komisi Pemilihan Umum setempat. Mereka menduduki dan memeriksa ruangan kantor untuk mencari Ketua KPU yang dianggap bertanggungjawab atas pencoretan tersebut.

Mengendarai satu unit truk dan belasan sepeda motor, massa pendukung Subani tiba di kantor KPU Jalan Pamenang siang tadi. Begitu datang mereka langsung merangsek ke dalam kantor dan mensweeping seluruh ruangan. “Mana ketuanya,” teriak mereka sambil memeriksa ruangan KPU satu per satu, Kamis (22/4).

Aksi tersebut dipimpin sendiri oleh Subani yang tampak mengenakan setelan jas dan peci layaknya calon Bupati. Sambil berteriak, dia menuding KPU bersekongkol dengan calon tertentu untuk menggagalkan pencalonannya. Aksi tersebut sempat membuat petugas keamanan yang berjaga di kantor KPU terkejut. Mereka berusaha membujuk massa untuk tidak masuk ke ruangan.

Dalam orasinya, Subani mengaku dicurangi KPU terkait persyaratan pencalonannya di jalur independen. Meski membawa 51.640 bukti dukungan, dia dinyatakan tidak diterima sebagai calon. Dia bersikukuh jika jumlah tersebut memenuhi syarat tiga persen dari jumlah pemilih. “Kenapa dinyatakan tidak memenuhi,” katanya.

Selain itu, dia juga menyesalkan sikap KPU yang tidak kooperatif memberitahukan kekurangan tersebut agar segera diperbaiki. Dia menduga hal itu sudah direncanakan KPU untuk mengganjal calon independen. Karena itu, dia bermaksud meminta penjelasan dari Ketua KPUD, Agus Edi Winarto.

Sejumlah anggota KPUD yang berusaha menemui mereka ditolak mentah-mentah. Mereka tetap meminta Agus menjelaskan sendiri alasan pencoretannya. “Kebetulan Pak Agus sedang seminar di luar,” kata anggota KPU Sapta Andaruisworo.

Menurut dia, pencalonan Subani sudah dinyatakan gagal dalam rapat pleno KPU. Karena tidak ada celah lagi bagi mantan guru sekolah Bupati Kediri Sutrisno itu untuk maju. Berdasarkan catatan KPU, ditemukan sejumlah penyimpangan bukti dukungan yang diajukan Subani.

Penyimpangan tersebut antara lain penggunaan kartu identitas selain Kartu Tanda Penduduk serta penggelembungan jumlah dukungan yang sangat besar. Dari 51.640 bukti dukungan yang diajukan Subani, hanya terdapat 40.363 dukungan yang asli. Jumlah ini di bawah batas minimal jumlah dukungan calon independen sebesar tiga persen jumlah pemilih atau 44.141 suara

Petugas juga menemukan penggunaan kartu pelajar sebanyak 20 lembar, kartu OSIS satu lembar, Surat Izin Mengemudi 37 lembar, kartu keanggotaan Nahdlatul Ulama 26 lembar, kartu anggota partai politik satu lembar, KTP luar daerah empat lembar, kartu Jamkesmas dua lembar, kartu peserta Koperasi Unit Desa dua lembar, kartu pensiun satu lembar, KTP dari luar desa 154 lembar, kartu pemilih 29 lembar, dan tanpa identitas sebanyak 198 lembar.

Dengan hasil ini KPU menyatakan tidak perlu lagi meneruskan verifikasi terhadap pasangan Subani – Masruki dan mencoretnya dari tahapan pilkada selanjutnya. “Silakan kalau mau menggugat,” kata Sapta.

Hingga saat ini Subani dan massanya masih menduduki kantor KPUD. Mereka menunggu kedatangan Agus Edi Winarto untuk menjelaskan alasan pencoretannya. (sumber: tempointeraktif)

Filed Under: Kabar Pilkada

Tags:

About the Author:

RSSComments (0)

Trackback URL

Comments are closed.

  • Quote of the Day
    Bagaimana mau menang, jika tidak pernah masuk dalam pertempuran.