Elektabilitas Artis Diragukan dalam Pilkada

juliaperez-01Partai politik (parpol) menilai,modal popularitas yang dimiliki para artis untuk maju dalam pemilihan kepala daerah (pilkada) belum cukup.Popularitas dinilai bukan sebagai jaminan sukses di pilkada.

Untuk bisa meraih kemenangan dalam pilkada dibutuhkan beberapa kriteria.Salah satunya tingkat elektabilitas yang tinggi. “Itu (popularitas artis) tidak menjamin. Karena itu,kita punya tiga kriteria untuk menentukan calon, yaitu elektabilitas, kapasitas, dan integritas,” tegas Wakil Ketua Umum DPP Partai Amanat Nasional (PAN) Dradjad H Wibowo di Gedung DPR Jakarta kemarin.

Dengan tiga pertimbangan itu, menurut dia, bukan berarti PAN ingin membatasi keterlibatan artis untuk maju dalam pilkada. Namun, ujarnya, penerapan standardisasi tersebut semata-mata sebagai bentuk tanggung jawab partai terhadap calon pemimpin yang diusung. Paling tidak, ujarnya, calon pemimpin yang diusung partai tidak asal-asalan. “Itu tidak hanya diterapkan untuk artis yang hendak maju dari PAN, tetapi bagi siapa pun, termasuk kader internal PAN yang mau dicalonkan,”tandasnya.

Seperti diketahui, akhir-akhir ini sejumlah artis dikabarkan akan maju dalam pilkada di beberapa daerah.Mereka di antaranya Julia Perez (Jupe) yang dikabarkan dicalonkan sebagai Wakil Bupati Pacitan oleh Partai Hanura. Kemudian, Maria Eva yang isunya akan maju dalam Pilkada Sidoarjo. Ada juga nama Venna Melinda yang dikabarkan sebagai calon kuat Partai Demokrat untuk Pilkada Blitar.

Yang terakhir adalah Ingrid Kansil yang juga dikabarkan akan maju dalam Pilkada Cianjur. Wakil Sekretaris Jenderal (Wasekjen) DPP Partai Demokrat Angelina Sondakh sepakat dengan pendapat Drajad. Menurut dia, pengaruh popularitas terhadap elektabilitas hanyalah sekitar 16%. Karena itu, ujarnya, parpol harus melihat fakta ini sebelum mengajukan artis sebagai calon dalam pilkada.

Angelina mencatat, sejauh ini,tingkat kesuksesan artis dalam pilkada relatif rendah. Sebab, dari sekitar 96 nama artis yang maju dalam pilkada, hanya 11 orang saja yang berhasil terpilih. “Masyarakat tidak akan memilih figur yang populer saja, tapi juga harus memiliki kompetensi.

Pengaruh popularitasnya hanya 16,3% dari peluang keterpilihan. Sisa variabelnya adalah seperti pada jaringan, kekuatan finansial, dan kedekatannya dengan parpol,” tegas Angelina dalam diskusi ”Selebritas dalam Pilkada Bukan Sekadar Popularitas” kemarin di Gedung DPD Jakarta.

Apalagi, ujarnya, selama ini artis yang maju dalam pilkada atau pemilu bukan didasari niat dan kesadaran politik, melainkan karena dorongan pihak-pihak yang hanya memanfaatkan popularitasnya saja. “Jadi, saat mereka ditanya visi-misinya justru kebingungan karena tidak tahu harus berbuat apa ketika nanti menjadi kepala daerah. Hal seperti itu pasti akan dilihat masyarakat yang sudah semakin cerdas,”tandasnya.

Karena itu,Angelina yang juga mantan artis ini mengingatkan agar para selebritas yang akan maju dalam pilkada mewaspadai adanya upaya mendompleng popularitas tersebut. Sebab, kata dia, cara-cara seperti itu justru akan berujung para penjerumusan artis yang bersangkutan. “Yang bisa seperti itu mungkin di pengurus cabang, hanya mencari panggung dengan popularitas artis,”tegasnya.

Meski demikian,Angelina meminta agar tidak memandang sebelah mata terhadap artis yang memang memiliki kapasitas dan integritas tinggi. Menurut dia, artis yang memang memiliki kemampuan untuk memimpin dan memajukan masyarakat patut juga mendapatkan dukungan. “Jadi, harus dikembalikan apakah artis yang hendak maju itu memiliki kemampuan atau tidak,”ujarnya.

Politikus Partai Hanura Gusti Randa menyatakan,tidak aneh jika para selebritas berkeinginan maju dalam pilkada.Sebab,menurut dia, setidaknya artis sudah memiliki modal untuk bersaing dalam pilkada. Modal itu di antaranya popularitas dan sumber dana.“Yang aneh justru jika selebritas tidak mau maju dalam pilkada,”paparnya. Mantan pemain sinetron itu juga menyatakan,selain bermodal popularitas dan dana, artis juga relatif lebih jelas track record-nya dibandingkan mereka yang bukan dari kalangan selebritas.

“Masa lalunya jelas sehingga masyarakat tidak memilih kucing dalam karung. Kalau toh artis itu memiliki masa lalu yang negatif, itu juga akan dilihat masyarakat. Sebab, bagaimanapun, artis akan selalu disorot media,”tegas kuasa hukum Jupe ini. Sementara itu, pakar komunikasi politik Universitas Indonesia Effendi Gazali mengatakan, artis yang ingin maju dalam pilkada harus teruji pemikiran-pemikiran politiknya.

Dia mencontohkan, rencana majunya Jupe dalam Pilkada Pacitan. Menurut dia, Jupe belum teruji dari segi pemikiran dan tindakan politiknya. “Kalau kembali ke Jupe, saya haruslangsungmencoret.Diabelum menunjukkan pemikiran politiknya. Ditanyakan mau apa? Dijawab Jupe, mau tingkatkan pariwisata Pacitan.Ditanya pariwisata yang di mana di Pacitan? Dijawab Jupe, pokoknya adalah di sana.Nah kalau masih begitu pemikiran politiknya, apakah sudah pantas menjadi kepala daerah?”katanya. (sumber: harian sindo)

Related Blogs

    Filed Under: Kabar Pilkada

    Tags:

    About the Author:

    RSSComments (0)

    Trackback URL

    Comments are closed.

    • Quote of the Day
      Bagaimana mau menang, jika tidak pernah masuk dalam pertempuran.