3 Pasangan Calon Tolak Pilwali Pasuruan

tolak pilwaliSebanyak tiga saksi dari pasangan calon Mas Pudjo-Gus Much, A Anshori-A Sufiyaji (Aji) serta Reza Eko Prasistyo-Teguh Heru Pribadi (Restu), memutuskan keluar saat perhitungan rekapitulasi suara di KPU Kota Pasuruan, Jawa Timur, Minggu (11/7/2010).

Mereka menolak hasil pilkada Kota Pasuruan yang digelar 7 Juli lalu, karena dianggap banyak kecurangan dan cacat hukum.

Sebelum penghitungan digelar, ketiga saksi pasangan calon menginterupsi sidang pleno terbuka yang dipimpin Ketua KPU Abdul Hamid Mujib. Mereka meminta agar rekapitulasi suara tidak dilanjutkan dan ditunda.

Alasannya, tiga saksi pasangan calon tersebut mengaku tidak memiliki hasil rekapitulasi di tingkat PPK atau kecamatan, di mana para saksi dari ketiga calon juga menolak teken.

Namun permintaan tersebut tidak dikabulkan dan KPU tetap melanjutkan acaranya penghitungan sehingga mereka memutuskan meninggalkan rekapitulasi.

“Kami keluar karena perhitungan tersebut tidak mungkin untuk dilakukan. Karena kami tidak memiliki bahan hasil rekapitulasi tingkat kecamatan. Makanya dengan tegas kami sampaikan, menolak hasil pilkada Kota Pasuruan karena cacat hukum,” kata Abd Malik, ketua Tim Sukses Mas Pudjo-Gus Much didampingi para tim sukses dari calon lainnya.

Para saksi juga menyampaikan, selama pilkada banyak terjadi kecurangan. “Di antaranya keterlibatan PNS sejak dari awal hingga akhir serta money politic di seluruh Kota Pasuruan oleh pasangan tertentu. Karenanya kami akan melakukan tuntutan ke Mahkamah Konstitusi MK agar dilangsungkan coblos ulang,” tegas Pranoto, Sekretaris Tim Sukses Pasangan Mas Pudjo-Gus Much.

Dengan keluarnya tiga saksi pasangan calon tersebut, otomatis hanya tinggal saksi dari pasangan Hasani-Setiyono (Hati) saja, yakni Sartono yang mengikuti hingga akhir serta meneken hasil rekapitulasi.

Di tengah para saksi pasangan calon meninggalkan KPU, ganti sejumlah demonstran yang menamakan diri gerakan masyarakat peduli Pasuruan (Gempa) melurug KPU.

Mereka menuntut KPU Kota Pasuruan berkomitmen menyikapi hasil perkembangan pilkada dengan menerima seluruh aspirasi warga serta tidak gegabah dan memaksakan.

Para demosntran tersebut juga membawa sejumlah bukti kecurangan berupa daftar pemilih ganda dengan uang Rp 100.000.

“Di setiap keluarahan pemilih ganda sangat banyak. Ditambah lagi praktik money politic. Selain itu adanya indikasi kecurangan dengan konspirasi bersama tim Hati dan petugas di TPS memenangkan Hati. Terbukti tanda coblosan nampak semacam kode, seperti TPS tertentu mencoblos kuping, mulut maupun yang lain pada gambar Hasani,” teriak M Ali dan Joko Mugik serta para demonstran lainnya yang dikenal sebagai pendukung Aji.

Sementara KPU Kota Pasuruan tetap melakukan perhitungan meski hanya diikuti dari satu saksi pasangan calon saja. “Sesuai aturan, meski ada saksi yang tidak hadir, rekapitulasi suara dinyatakan tetap sah dan tidak melanggar aturan,” kata Abd Hamid Mujib, Ketua KPU.

Hasil rekapitulasi, pasangan Hati mendapat 35.798 suara atau 36,01 persen, pasangan Mas Pudjo-Gus Much mendapat 30.348 suara atau 30,53 persen, Pasangan Aji mendapat 25.427 atau 25,58 persen dan Pasangan Restu mendapat 7.833 suara atau 7,88 persen.

Sedangkan tingkat partisipasi masyarakat saat pilkada lalu sebesar 75,79 persen atau 102.445 hadir di TPS. Untuk golput mencapai 24,21 persen.

Selain itu, dari ketiga pasangan calon ternyata tidak semuanya akan membawa masalah tersebut ke Mahkamah Konstitusi. Dari tiga pasang calon, hanya pasangan Mas Pudjo-Gus Much serta Aji saja yang akan menuntut hasil pilkda Kota Pasuruan ke MK.

Sedangkan pasangan Restu, meski saksinya memutuskan menolak teken hasil rekapitulasi suara, ternyata pasangan asal independent ini mengakui kekalahannya dan tidak bakal mengajukan tuntutan ke MK. (sumber: kompas)

Filed Under: Kabar Pilkada

Tags:

About the Author:

RSSComments (0)

Trackback URL

Comments are closed.

  • Quote of the Day
    Bagaimana mau menang, jika tidak pernah masuk dalam pertempuran.