14 Kotak Suara Hilang di Pemilukada Bombana

gambar ilustrasi

gambar ilustrasi

Azis Baking (Serasi) mengaku kekalahannya di Pemilihan Umum Kepalada Daerah (Pemilukada) tahap kedua Kabupaten Bombana karena adanya suara yang tidak dimasukan dalam rekapitulasi suara di tingkat kabupaten. Kuasa Hukum Serasi, La Ode Muhammad Bariun menyebutkan 14 dari 38 kota suara dari Poleang Utara tidak dihitung sehingga kliennya kehilangan suara.

“Jelas itu merugikan kami karena seharusnya juga direkap. Kotak suara itu hilang saat diantar dari kecamatan ke kabupaten. Mereka (KPU) beralasan ada kota Pilcaleg (Pemilihan Calon Legislatif),” kata Bariun di Jakarta, Kamis (2/6).

Untuk membantah adanya surat suara di 14 kotak, pasangan Tafdil-Masyura Ila Ladamay (Tamasya) mendatangkan Kasat Intel Polres Bombana, Iptu Fantry Taherong. Menurut Ketua Tim Pemenangan Tamasya, Sukarman, Fantry dihadirkan untuk menjelaskan pengamanan terhadap kota suara yang dianggap hilang.

“Isinya memang dokumen pemilihan legislatif sehingga tidak diserahkan ke kabupaten pada saat rekapitulasi. Surat suaranya itu sudah diserahkan sebelumnya dari PPK ke KPU pada saat rekapitulasi. Jadi tidak ada yang hilang, semuanya dihitung. Jadi 14 kota suara itu bukan bagian yang akan direkap KPU,” katanya.

Namun, kehadiran polisi dengan dua balok di pundaknya ini diprotes oleh Bariun. Ia mempertanyakan surat izin dari pimpinannya. Apalagi kata dia, aparat keamanan harusnya bersikap netral. Sementara dalam sidang lanjutan Pemilukada di Gedung Mahkamah Kosntitusi (MK), Fantry hadir sebagai saksi Tamasya.

Bariun meragukan kesaksian Fantry. Alasannya, salah seorang saksinya tidak melihat Fantry melakukan pengawalan dan pengawasan terhadap kotak suara yang akan diserahkan ke KPU.

Yang lebih lucu lagi kata Bariun, saat Sekretaris KPU Bombana memberi keterangan di hadapan sidang yang dipimpin hakim konstitusi, Akil Mochtar. Nazaruddin membantah mengenal H Faziha yang ditempati Yuyun menginap sehari sebelum digelarnya pemungutan surat suara.

“Memang sangat lucu. Terkadang hubungan darah putus karena dukung mendukung salah satu calon. Faziha adalah saudara kandung Nasruddin dan Yuyun adalah keponakannya. Sampai-sampai dia tidak mengakui keluarganya” katanya.

Sebelumnya, saksi Serasi, Fitri mengaku bahwa dirinya dibayar oleh Nasaruddin Rp 250 ribu untuk mencoblos Tamasya. Padahal, guru honorer di Kota Kendari ini bukan warga Bombana dan tidak tercatat dalam Daftar Pemilih Tetap yang dikeluarkan KPU. Bersama dengan Yuyun dan enam orang lainnaya dari Kendari, mereka menginap di rumah H Faziha. Fitri menyebut Yuyun adalah keponakan Nasaruddin. Nasaruddin juga memberi surat panggilan memilih dan mengajari untuk menghapal nama yang tertera pada surat panggilan. Fitri menggunakan surat panggilan Selly Marcelina.

Atas permintaan Kubu Serasi, Panwas Pemilukada Bombana dihadirkan sebagai saksi. Kehadiran Panwas ini untuk menjelaskan banyaknya laporan yang masuk terhadap pelanggaran yang dilakukan Tamasya namun tidak ditindaklanjuti. (sumber: jpnn)

Filed Under: Kabar Pilkada

Tags:

About the Author:

RSSComments (0)

Trackback URL

Comments are closed.

  • Quote of the Day
    Bagaimana mau menang, jika tidak pernah masuk dalam pertempuran.